Mpa’a ponte
janga adalah jenis mpa’a yang suaranya menyerupai cara berkokok janga (ayam).
Pelaksanaan mpa’a ini diawali dengan pembagian kelompok berdasarkan banyak
personil yang mengikuti permainan. Kelompok yang telah dibagi melakukan
kegiatan yang dinamakan ponte janga. Kegiatan dimulai dengan mebungkus (ponte)
salah satu anggota kelompok sebagai janga (ayam) dengan memakai kain atau
sarung yang bisa menutupi seluruh badan mulai dari kaki sampai kepala, dalam
kegaitan ini anggota yang di ponte tidak boleh diketahui oleh pihak lawan
begitu juga regu lawan. Kekuatan strategi yang dilakukan untuk mengelabui
lawan sangat perlu, karena senjata utama tiap-tiap regu adalah merubah suara
untuk menyerupai kokok ayam, cara jalan dalam bentuk menjongkok dan menunduk
dan lain sebagainya. membungkus (ponte) hanya dilakukan oleh ketua regu.
Setelah
dibungkus (ponte) masing-masing ketua kelompok mempertemukan atau mendekatkan
janga (ayam) masing-masing, kemudian disuruh berkokok menyerupai/meniru suara
ayam. Setelah disuruh berkokok masing-masing pemimpin regu/ketua kelompok
menebak suaranyadan menyebutkan nama janga (ayam) kelompok lawan yang berkokok
didepannya. Bila benar dalam menyebutkan nama janga (ayam) kelompok lawan maka
dia tidak menadapat denda atau dalam permainan ini biasa disebut saponte,
tetapi jika tidak benar, maka diberi denda dengan sebutan saponte (sebungkus).
Ending dari pada permainan ponte janga yaitu apabila orang yang suara
berkokoknya dapat ditebak oleh lawan, maka dia akan bergabung dengan kelompok
yang mengenal suara tadi, sehingga akan menambah banyak anggota kelompok yang
mengenal suara berkokok. Sedangkan kelompok yang kalah akan berkurang dan
seterusnya sampai selesai.
BAB I PENDAHULUAN A. DASAR PEMIKIRAN Generasi muda diharuskan mangenal sejarah dan mengembangkan kenangan, perkembangan masa lalu, masa sekarang dan masa-masa yang akan datang guna memperkaya budaya daerah dan budaya nasional. Penggalian sejarah tentang perkembangan Desa Rupe selama ini hanya diwariskan melalui cerita lisan. Setiap pergantian generasi lebih kurang cerita itu banyak yang tenggelam, akibatnya generasi banyak yang melupakan sejarah dengan dasar “ sejuta ingatan lebih baik satu catatan yang bernilai sejarah”. Kurang mengenal sejarah akibatnya persatuan dan kesatuan semakin renggan ,rasa persaudaraan akan hilang. Dari dasar pemikiran tersebut di atas permasalahan yang dihadapi saat sekarang adalah: 1 Kurang mengenal sejarah lebih-lebih sejarah perkembangan desa mereka sendiri (Desa Rupe) 2 Belum ada yang menulis sejarah perkembangan Desa Rupe dan Langgudu. 3 Persatuan dan kesatuan sekarang semakin renggang 4 Tuntutan p...
Komentar