Minggu, 18 Februari 2018

BERPIKIR SEJARAH




BAB I. 
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
            Sejarah mengajarkan kepada kita cara berpikir kronologis, artinya berpikirlah secara runtut, teratur, dan berkesinambungan. Dengan konsep kronologis, sejarah akan memberikan kepada kita gambara yang utuh tentang peristiwa atau perjalanan sejarah dari tinjauan aspek tertentu sehingga dengan mudah kita dapat menarik manfaat dan makna dari hubungan antar peristiwa yang terjadi.
            Adapun dalam kehidupan sehari-hari, konsep berfikir diakrnik atau kronologis ini sangat diperlukan jika kita ingin memecahkan masalah. Tanpa berpikir secara runtut dan berkesinambungan dalam mengidentifikasi suatu permasalahan, kita akan dihadapkan pada pemecahan masalah atau pemberian solusi yang tidak tepat.
            Cara berpikir sinkronik akan mengajarkan kepada kita untuk lebih teliti dalam mengamati gejala atau fenomena tertentu, terhadap peristiwa atau kejadian pada waktu tertentu. Konsep berpikir sinkronik banyak diterapkan pada ilmu-ilmu social lainnya, terutama jika ingin mengetahui secara lebih mendalam tentang sesuatu hal yang tengah menjadi focus perhatian kita. Meskipun tidak melakukan perbandingan dengan sejumlah kondisi yang sama, tetapi dengan memfokuskan perhatian terhadap suatu gejala atau fenomena tertentu dalam sebuah kajian akan membuat kita lebih memaknai mengapa hal itu dapat terjadi. Selain melatih kita untuk dapat berpikir kronologi dan sinkronik, sejarah juga mengajarkan kepada kita cara berpikir holistic. Holistic mempunyai pengertian menyeluruh, artinya dalam mengamati atau mempelajari suatu peristiwa kita hendaknya menggunakan cara pandang dengan mempertimbangkan berbagai aspek. Sebagai contoh, kita ingin mempelajari mengapa perang dapat terjadi? Dengan cara berpikir holistic kita akan memulai mempelajari sebab-sebab, tokoh yang terlibat, dimana kejadiannya, kapan terjadinya, factor pemicu, usah-usaha yang telah dilakuakn untuk mencegah terjadunya perang, korban, dan akibat dari perang tersebut. Oleh karena itu, kita juga belajar bahwa setiap akibat pasti ada sebabnya, sejauh mana kemampuan kita dapa mencegah sebaba atau mehgurangi atau bahkan menghindari akibat yang tidak kita inginkan.


1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana Konsep Dasar Berfikir Sejarah?
1.2.2 Bagaimana Strategi Pengembangan Berfikir Sejarah?
1.2.3 Bagaimana Penerapan Berfikir Sejarah Dalam Pembelajaran Sejarah?

1.3 Tujuan dan Manfaat
1.3.1 Mengetahui Konsep Dasar Berfikir Sejarah
1.2.2 Mengetahui Strategi Pengembanagn Berfikir Sejarah
1.2.3 Mengetahui Penerapan Berfikir Sejarah Dalam Pembelajaran Sejarah










BAB II.
PEMBAHASAN

A.    Konsep Dasar Berpikir Sejarah
Sejarah berasal dari serapan bahasa arab yaitu kata Syajarotun yang berarti pohon. Pengertian sejarah secara umum diartikan kisah atau cerita yang mengupas kehidupan manusia dimasa lampau. Menurut Kuntowijoyo, dalam mempelajari sejarah tidak terlepas dari cara berpikir Diakronis dan Sinkronis, yang masing-masing saling melengkapai.
1.      Berpikir Sejarah Secara Diakronis
     Menurut Galtung, diakronis berasal dari bahasa Yunani, dia artinya melintasi atau melewati dan khronos yang berarti perjalanan waktu. Dengan demikian, diakronis dapat diartikan sebagai suatu peristiwa yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya dan tidak berdiri sendiri atau timbul secara tiba-tiba. Sebab sejarah meneliti gejala-gejala yang memanjang dalam waktu, tetapi dalam ruang yang terbatas.
Konsep diakronis melihat bahwa peristiwa dalam sejarah mengalami perkembangan dan bergerak sepanjang masa. Melalui proses inilah, manusia dapat melakukan perbandingan dan melihat perkembangan sejarah kehidupan masyarakatnya dari jaman ke jaman berikutnya.
Suatu peristiwa sejarah tidak bisa lepas dari peristiwa sebelumnya dan akan mempengaruhi peristiwa yang akan datang. Sehingga, berfikir secara diakronis haruslah dapat memberikan penjelasan secara kronologis dan kausalita. Kronologi adalah catatan kejadian-kejadian yang diurutkan sesuai dengan waktu terjadinya. Kronologi dalam peristiwa sejarah dapat membantu merekonstruksi kembali suatu peristiwa berdasarkan urutan waktu secara tepat, selain itu dapat juga membantu untuk membandingkan kejadian sejarah dalam waktu yang sama di tempat berbeda yang terkait peristiwanya.
a)      Contoh berpikir sejarah secara diakronis
Menjelaskan peristiwa detik-detik proklamasi harus menjelaskan pula peristiwa-peristiwa yang melatarbelakanginya, seperti: peristiwa menyerahnya Jepang kepada sekutu, reaksi pemuda Indonesia terhadap berita kekalahan Jepang, peristiwa Rengasdengklok, penyususnan teks proklamasi, dan lain sebagainya.
a)      Ciri-ciri berpikir sejarah secara diakronis
§  Mengkaji dengan berlalunya masa
§  Menitik beratkan pengkajian peristiwa pada sejarahnya
§  Bersifat historis atau komparatif
§  Bersifat vertikal
§  Terdapat konsep perbandingan
§  Cakupan kajian lebih luas

B.     Berpikir Sejarah Secara Sinkronik
Kata sinkronis berasal dari bahasa Yunani syn yang berarti dengan, dan khronos yang berarti waktu, masa. Sinkronis artinya segala sesuatu yang bersangkutan dengan peristiwa yang terjadi di suatu masa / ruang tetapi terbatas dalam waktu. Sinkronis artinya meluas dalam ruang tetapi terbatas dalam waktu yang mengandung kesistematisan tinggi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Sinkronik artinya segala sesuatu yang bersangkutan dengan peristiwa yang terjadi di suatu masa yang terbatas. Menurut Galtung, pengertian sejarah secara sinkronik artinya mempelajari pristiwa sejarah dengan berbagai aspeknya pada waktu atau kurun waktu yang tertentu atau terbatas. Atau meneliti gejala-gejala yang meluas dalam ruang tetapi dalam waktu yang terbatas
Berpikir sejarah secara sinkronis adalah mempelajari peristiwa yang sezaman, atau bersifat horisontal, artinya mempelajari pristiwa sejarah dengan berbagai aspeknya pada waktu atau kurun waktu yang tertentu atau terbatas. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengertian berpikir sinkronik dalam sejarah adalah  mempelajari (mengkaji) struktur (karakter) suatu peristiwa sejarah dalam kurun waktu tertentu atau dibatasi oleh waktu.
a)      Contoh berpikir sejarah secara sinkronis
Menggambarkan keadaan ekonomi  di Indonesia pada suatu waktu tertentu, seperti: Keadaan ekonomi masyarakat Indonesia tahun 1945-1950
b)      Ciri-ciri berpikir sejarah secara sinkronis
§  Mengkaji  pada masa tertentu
§  Menitik beratkan pengkajian  pada strukturnya(karakternya)
§  Bersifat horizontal
§  Tidak ada konsep perbandingan
§  Cakupan kajian lebih sempit
§  Memiliki sistematis yang tinggi
§  Bersifat lebih serius dan sulit

C.    Keterkaitan Berpikir Sejarah Secara Diakronik dan Sinkronik
Sejarah adalah proses, dalam kata lain sejarah adalah perkembangan. Ilmu sejarah sendiri memiliki sifat yang diakronis yaitu memanjang dalam waktu dan dalam ruang yang terbatas. Sejarah mengenal adanya suatu proses kontinuitas atau berkelanjutan. Sehingga sejarah itu sendiri merupakan suatu rekonstruksi peristiwa masa lalu yang bersifat kronologis. Sedangkan ilmu sosial itu bersifat sinkronis (menekankan struktur) artinya  ilmu sosial meluas dalam ruang. Pendekatan sinkronis menganalisa sesuatu tertentu pada saat tertentu, titik tetap pada waktunya. Ini tidak berusaha untuk membuat kesimpulan tentang perkembangan peristiwa yang berkontribusi pada kondisi saat ini, tetapi hanya menganalisis suatu kondisi seperti itu. Ada juga yang menyebutkan ilmu sinkronis, yaitu ilmu yang meneliti gejala - gejala yang meluas dalam ruang tetapi dalam waktu yang terbatas.
                        Kedua ilmu ini saling berhubungan ( ilmu sejarah dan ilmu – ilmu sosial ). Kita ingin mencatat bahwa ada persilangan antara sejarah yang diakronis dan ilmu sosial lain yang sinkronis Artinya ada kalanya sejarah menggunakan ilmu sosial, dan sebaliknya, ilmu sosial menggunakan sejarah Ilmu diakronis bercampur dengan sinkronis.
                        Menurut Kuntowijoyo, dalam mempelajari sejarah tidak lepas dari cara berfikir diakronis dan berfikir sinkronis, karena keduanya saling melengkapi.
Contoh: Candi Borobudur merupakan peninggalan sejarah kehidupan bangsa Indonesia pada masa Hindu-Budha. Sehingga dalam menceritakan tentang Candi Borobudur tidak hanya menceritakan bagaimana urutan waktu (aspek Diakronis) Candi borobudur dibangun tapi juga bisa kita lihat bagaimana kehidupan politik, ekonomi, sosial dan  budaya (Aspek Sinkronis) pada masa pembangunan Candi tersebut. Secara Diakronis Candi Borobudur dibangun antara kurun waktu 760 sampai 830 M dan dibangun dalam 4 tahap dengan arsiteknya Gunadarma dan rampung pada masa pemerintahan Raja Samaratungga. Kita dapat berfikir secara sinkronik dari Bangunan monumental Semegah candi Borobudur mungkinkah dibangun oleh masyarakat yang kacau, tentu saja tidak bangunan yang megah tersebut tentu dibangun masyarakat yang makmur (aspek ekonomi), hidup bergotong royong dan toleransi (Aspek sosial budaya), memiliki raja yang berwibawa (aspek politik) dan religius (aspek Agama).

2.1.4 Keterkaitan Konsep Ruang dan Waktu dalam Sejarah
a) Konsep Ruang
§  Ruang adalah konsep yang paling melekat dengan waktu
§  Ruang merupakan tempat terjadinya berbagai peristiwa - peristiwa sejarah dalam perjalanan waktu
§  Penelaahan suatu peristiwa berdasarkan dimensi waktunya tidak dapat terlepaskan dari ruang waktu terjadinya peristiwa tersebut
§  Jika waktu menitik beratkan pada aspek kapan peristiwa itu terjadi, maka konsep ruang menitikberatkan pada aspek tempat, dimana peristiwa itu terjadi.
b) Konsep Waktu
§  Masa lampau itu sendiri merupakan sebuah masa yang sudah terlewati. Tetapi, masa lampau bukan merupakan suatu masa yang final, terhenti, dan tertutup
§  Masa lampau itu bersifat terbuka dan berkesinambungan. Sehingga, dalam sejarah, masa lampau manusia bukan demi masa lampau itu sendiri dan dilupakan begitu saja, sebab sejarah itu berkesinambungan apa yang terjadi dimasa lampau dapat dijadikan gambaran bagi kita untuk bertindak dimasa sekarang dan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik di masa mendatang
§  Sejarah dapat digunakan sebagai modal bertindak di masa kini dan menjadi acuan untuk perencanaan masa yang akan dating.
                        Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa ada keterkaitan antara ruang dan waktu dalam sejarah. Konsep ruang dan waktu merupakan unsur penting yang tidak dapat dipisahkan dalam suatu peristiwa dan perubahannya dalam kehidupan manusia sebagai subyek atau pelaku sejarah. Segala aktivitas manusia pasti berlangsung bersamaan dengan tempat dan waktu kejadian, dan manusia selama hidupnya tidak bisa dilepaskan dari unsur tempat dan waktu karena perjalanan manusia sama dengan perjalanan waktu itu sendiri pada suatu tempat dimana manusia hidup ( beraktivitas ).



2.2 Strategi Pengembangan Berpikir Sejarah Kepada Siswa
            Strategi dalam mengembangkan berfikiris sejarah secara diakronis dan sinkronis kepada siswa yaitu melalui kemahiran pemikiran sejarah. Pemikiran Sejarah merupakan salah satu kemahiran yang penting dalam pendidikan Sejarah. Melalui kemahiran pemikiran Sejarah, pelajar-pelajar dirangsang untuk lebih berfikir secara diakronis dan sinkronis. Hal ini secara tidak langsung dapat meningkatkan pencapaian intelek para pelajar dan menjadikan Sejarah sebagai satu mata pelajaran yang hidup dan tidak lagi membosankan.
            Pendidikan Sejarah adalah satu mata pelajaran yang dapat merangsang pemikiran dan proses pemikiran secara diakronis dan sinkronis semasa mempelajari mata pelajaran Sejarah. Oleh karena itu, guru-guru Sejarah memain peranan yang penting untuk menerapkan pemikiran Sejarah melalui aktiviti-aktiviti pengajaran dan pembelajaran yang menggalakkan pelajar berfikir.
            Oleh sebab itu pendidikan Sejarah hendaklah dilakukan sebagai satu kuasa yang hidup yang boleh mengaitkan peristiwa masa lalu dengan hakikat semasa (Abd Rahim, 2000). Para pelajar perlu diterapkan dengan dengan konsep pemikiran Sejarah agar dapat memberi satu persepsi baru kepada pelajar bahawa Sejarah bukanlah satu subjek yang kaku dan membosankan. Malah ia dapat mendedahkan kepada para pelajar bagaimana seseorang ahli Sejarah itu bekerja melalui aktiviti-aktiviti pembelajaran yang dibimbing oleh guru mereka.
            Marzano et all. (1998) menjelaskan bahwa berfikir sejarah melibatkan satu set operasi mental yang dikenali sebagai proses. Proses ini merangkumi pembentukan konsep, pembentukan prinsip, kefahaman, penyelesaian masalah, membuat keputusan, penyiasatan dan penggabungan yang melibatkan beberapa kemahiran berfikir. Proses pemikiran di peringkat awal adalah lebih kepada pemerolehan pengetahuan, sementara di peringkat akhir ia lebih kepada penghasilan dan aplikasi ilmu.


2.3 Penerapan Berpikir Sejarah dalam Pembelajaran Sejarah
Penerapan berfikir sejarah secara diakronik dan sinkronik dalam pembelajaran sejarah, yaitu:
2.3.1 Kepentingan (Significance)
                        Dalam unsur kepentingan sejarah ini, siswa perlu mempunyai kemahiran membedakan antara peristiwa yang remeh dan penting. Dalam hal ini pemilihan kepentingan sejarah bergantung kepada minat dan nilai yang terdapat dalam masyarakat tersebut. Oleh itu siswa disarankan untuk mengkaji sejarah tentang masyarakat, kehidupan dan perkara-perkara yang mempunyai kepentingan kepada mereka.
2.3.2 Epistemologi dan bukti (Epistemology and evidence)
                        Epistemologi dan bukti melibatkan pemahaman bagaimana kita mengetahui masa lampau. Apakah bukti yang kita ada ? Sejauhmana bukti tersebut boleh dipercayai? Bagaimana kita boleh menjelaskan tentang kewujudan tafsiran sejarah yang berbeza dan bertentangan. Sebagai contoh kanak-kanak tidak sepatutnya dibiarkan dengan pandangan bahawa hanya ada satu kisah benar sahaja pada masa lampau. Sedangkan pada hakikatnya sejarawan membuat pelbagai inferens berdasarkan bukti, justeru itu wujud pelbagai tafsiran tentang sesuatu peristiwa masa lalu.
2.3.3 Kesinambungan dan perubahan (Continuity and Change)
                        Unsur ini menekan pemahaman tentang perubahan masa lalu yang merupakan pusat pemikiran Sejarah. Umur merupakan faktor untuk memahami keadaan ini; iaitu seseorang yang berumur dikatakan lebih memahami perubahan yang berlaku pada masa lalu misalnya perubahan dari segi teknologi dan nilai berbanding dengan mereka yang lebih muda. Namun begitu terdapat juga pengkaji yang menolak pendapat ini. Menurut mereka umur bukanlah satu faktor utama dalam memahami perubahan masa lalu. Menurut pengkaji-pengkaji ini pengalaman hidup turut menjadi faktor iaitu golongan muda yang mengalami pengalaman perang, pelarian, imigran dan mereka yang kehilangan ibu bapa atau yang berpindah randah dari satu kawasan ke kawasan lain mempunyai pemahaman yang lebih baik tentang perubahan Sejarah berbanding dengan mereka yang hidup dalam suasana yang aman.
2.3.4 Perkembangan dan kemerosotan (Progress and decline)
                        Berdasarkan unsur ini siswa perlu memahami bahawa dalam kehidupan akan mengalami peringkat perkembangan dan kemerosotan. Dalam peringkat perkembangan hidup seseorang mengalami kejayaan, manakala kemerosotan mereka mengalami satu keadaan yang sukar. Oleh itu dalam konsep pemikiran Sejarah mereka seharusnya dapat mengenalpasti atau membezakan kewujudan dua keadaan ini. Ini adalah penting agar mereka dapat memahami proses yang berlaku dalam peristiwa Sejarah.
2.3.5 Empati dan penilaian moral (empathy and moral judgement)
                        Pemikiran sejarah memerlukan seseorang mempunyai daya imaginasi dan empati. Tujuannya agar pelajar-pelajar tidak merasa asing dan pelik tentang peristiwa masa lalu. Malah mereka seharusnya perlu mempunyai rasa hormat dan perasaan ingin tahu tentang peristiwa-peristiwa masa lepas. Penyelidik British Christopher Portal(1987), menegaskan bahawa empati merupakan satu cara pemikiran imaginative yang memerlukan kemahiran kognitif untuk melihat nilai-nilai kemanusiaan dalam peristiwa Sejarah.
2.3.6 Historical Agency
                        Elemen terakhir pemikiran sejarah ini merujuk kepada bagaimana dan mengapa sesuatu perkara itu terjadi. Dalam elemen ini pelajar ditekankan supaya menghargai Sejarah dan memahami bahawa tindakan rakyat pada masa lampau memberi kesan kepada rakyat pada masa kini. Seterusnya menyedari bahawa tindakan-tindakan yang dilakukan oleh mereka pada masa kini akan memberi kesan kepada generasi yang akan datang. Mempunyai pemikiran Sejarah bukan sahaja memikirkan tentang masa lampau , malah ia melibatkan melihat diri sendiri sebagai waris daripada masa lampau dan sebagai pelaku pada masa kini.

III.           PENUTUP

3.1 Kesimpulan
            Sejarah berasal dari serapan bahasa arab yaitu kata Syajarotun yang berarti pohon. Pengertian sejarah secara umum diartikan kisah atau cerita yang mengupas kehidupan manusia dimasa lampau. Menurut Kuntowijoyo, dalam mempelajari sejarah tidak terlepas dari cara berpikir Diakronis dan Sinkronis, yang masing-masing saling melengkapai.
            Strategi dalam mengembangkan berfikiris sejarah secara diakronis dan sinkronis kepada siswa yaitu melalui kemahiran pemikiran sejarah. Pemikiran Sejarah merupakan salah satu kemahiran yang penting dalam pendidikan Sejarah. Melalui kemahiran pemikiran Sejarah, pelajar-pelajar dirangsang untuk lebih berfikir secara diakronis dan sinkronis. Hal ini secara tidak langsung dapat meningkatkan pencapaian intelek para pelajar dan menjadikan Sejarah sebagai satu mata pelajaran yang hidup dan tidak lagi membosankan.
            Penerapan berfikir sejarah secara diakronik dan sinkronik dalam pembelajaran sejarah, yaitu: Kepentingan (Significance), Epistemologi dan bukti (Epistemology and evidence), Kesinambungan dan perubahan (Continuity and Change), Perkembangan dan kemerosotan (Progress and decline), Empati dan penilaian moral (empathy and moral judgement), dan Historical Agency.

3.2 Saran
            Setelah membahas makalah tentang berfikir sejarah secara diakronis dan sinkronis, diharapkan bagi khalayak umum yang telah membaca makalahn ini diharapkan dapat mengetahui konsep dasar berfikir sejarah, strategi Pengembanagn berfikir sejarah, dan penerapan berfikir sejarah dalam pembelajaran sejarah, sehingga dapat menambah wawasan, pengetahuan, dan dapat menerapkan pemikiran sejarah dalam kehidupan sehari-hari.







DAFTAR PUSTAKA

Abd Rahim, Abd Rashid . 2000. Model dan pendekatan pengajaran Sejarah KBSM.          Dewan Bahasa dan Pustaka: Kuala Lumpur.
Maharom Mahmood .1998 . Analisis Kemahiran Pemikiran Sejarah dalam bahan kurikulum peringkat menengah rendah. Tesis Sarjana Universiti Malaya.
Kementerian Pendidikan Malaysia. 2000. Huraian Sukatan Pelajaran Sejarah        KBSM Tingkatan 1,2 , 3.

Selasa, 03 Juni 2014

DELAPAN JAM BERJIBAKU UNTUK SMAN 1 PARADO


Oleh Marlita Putri Ekasari *

Hari Rabu ini, tanggal 29 Februari 2012 menjadi hari yang menegangkan. Bukan karena detik-detik akhir bulan februari 2012 tetapi kepastian SMAN 1 Parado  sebagai sekolah pendaftar beasiswa bidik misi ditentukan hari ini.
Aku yang sedang turun dari bemo tiba-tiba dijemput oleh Wakasek bagian kurikulum SMAN 1 Parado ,Pak Yusuf, untuk membantunya di PKBM. Aku sendiri yang sedang turun dari bemo, meng-iya kan dengan raut wajah bingung dan meminta ijin untuk sholat ashar terlebih dahulu karena sudah masuk waktu sholat. Pak Yusuf pun akhirnya menunggu. Setelah selesai sholat, beliau menjelaskan sedikit mengenai kesulitan yang dihadapinya, SMAN 1 Parado belum sukses mendaftar online. Aku bersedia berangkat setelah berpamitan dengan Ama dan Ina ku.
Sekitar 10 menit, aku dibonceng dengan motor menuju PKBM. Sesampainya disana, Pak Abdillah, Mas Daus, Mas Jufrin yang merupakan pengurus PKBM menyambut kami. Ternyata mereka (padahal jarang mereka bisa lengkap seperti ini) menemani Pak Yusuf untuk memasukkan data. Mereka duduk mengelilingi meja yang sudah rusuh dengan kertas-kertas dan asbak penuh puntung rokok. Baru kutahu, Pak Yusuf sudah mencoba memasukkan data secara online sejak jam 14.00 WITA dan berkali-kali gagal. Bahkan beliau sudah 3 kali ke rumahku untuk bertanya sedangkan aku tidak ada di rumah (Aku pergi ke Tente untuk mengirim laporan,di Parado,kadang tidak stabil sinyalnya). Sampailah aku di PKBM, diculik sebentar (daripada bolak-balik, katanya). Untungnya internet sore ini di PKBM cukup stabil, walaupun sempat saat jam 18.00, jendela internetnya hanya bisa dibuka dua. Aku yang juga perlu solusi menghubungi Kabid Kurikulum Dikmen Dikpora Kab Bima untuk membantu. Beliau mengatakan harus berhubungan dengan operator Dikpora Kabupaten yang belum diketahui nomor kontaknya dan saat itu di luar jam kerja. Beliau memintaku untuk ke kantor besok membawa formulir tetapi hal itu tidak bisa dilakukan karena dateline hari ini.
 Saat itu, kepanikanku beserta bapak-bapak itu memuncak karena kami belum berhasil dan mendapati kenyataan bahwa pendaftaran ditutup pukul 22.00 WIB (23.00 WITA) yaitu 5 jam lagi. Kami akhirnya memutuskan untuk sholat maghrib berjamaah untuk menyerahkan segalanya ke Allah. Allah membukakan jalannya lewat divisi Bidik Misi di Indonesia Mengajar. Kami berkomunikasi intens untuk membantu SMAN 1 Parado menembus barikade padatnya sistem online. Jendela Bidik Misi di Internet selalu error ketika memasukkan NPSN. Jam 21.00 WITA, akhirnya, kami berhasil masuk. Kami sempat bersorak gembira sebentar, tetapi senyum kami layu saat masih diperlukan lagi syarat memasukkan data tambahan seperti data nilai UN 3 tahun terakhir, form F yang harus ditandatangani kepala sekolah dan dicap sekolah, serta prestasi sekolah 3 tahun terakhir, harus dipersiapkan 2 jam lagi.  Setiap detik menjadi sangat berharga.
Kami tidak ingin menyerah. Pak Yusuf menemui Kepala Sekolah di rumahnya untuk meminta data UN, prestasi sekolah dan menyerahkan Form F di malam itu juga. Kami hanya punya waktu 1 jam lagi untuk menyelesaikan tugas ini. Aku yang notabene perempuan tidak ingin menyerah walau jam malamku sudah lewat. Masyarakat disini menganggap perempuan setelah maghrib harus berada di rumah jika bepergian pun harus bersama dengan teman perempuan lain. Tapi satu jam ini sangat berharga. Dan Pak Abdillah akhirnya membawa istrinya ke PKBM untuk menemaniku. Alhamdulilah ...Aku tetap duduk di depan komputer menunggu pak Yusuf..semoga saja lancar..
Pak Yusuf akhirnya datang dengan senyum lebarnya membawa form F yang sudah ditandatangani dan dicap, beserta data UN yang lengkap. Kami men-scan form F untuk di upload. Untungnya PKBM punya printer yang sekaligus bisa scan. Kami akhirnya berhasil memasukkan data dan selesai 10 menit sebelum jam 23.00 WITA. Kami mengecek ulang apakah benar-benar sudah berhasil. Kami belum berani meninggalkan komputer sampai nama SMAN 1 Parado masuk dalam SMA pendaftar beasiswa Bidik Misi. Dan tepat pukul 23.00, setelah kami yakin, nama SMAN 1 Parado ada di daftar itu, kami akhirnya mengucapkan syukur yang tak terkira. Aku bahkan tak henti-henti mengucapkan terima kasih atas kesabaran mereka, keyakinan mereka, kepercayaan mereka dan kesungguhan mereka hingga detik-detik terakhir. Pak Yusuf pun memintaku menyampaikan rasa terima kasih kepada divisi Bidik Misi Indonesia Mengajar.                  
Sejauh ini, perjuangan kami berhasil.. Tetapi, masih ada tahap lain yang harus dilewati. Semoga ada anak-anak Parado yang lolos dan memperoleh pendidikan tinggi lebih baik. Sekarang ada 2 anak SMAN 1 Parado yang mendaftarkan diri. Sekolah tetap berjuang walaupun mereka merasa pesimis akan lolos. Aku hanya bisa membantu dengan memberi motivasi anak-anak itu dengan memberi waktu mereka bertanya di hari Rabu sore.  
Delapan jam itu membuatku lebih optimis, bahwa masih ada orang-orang yang mendambakan pendidikan lebih baik walaupun dihambat oleh ganjalan akses informasi dan distribusi yang tidak seimbang antara kota dan daerah ini..
Ya Allah... untuk setahun ini, jadikan aku, orang yang bermanfaat semoga cukup bisa menggeser sedikit ganjalan informasi dan memperpendek jarak itu bagi pendidikan mereka...
Amiin ..
*Apoteker lulusan Universitas Gadjah Mada (2010)  bidang Farmasi klinik dan komunitas ini akrab disapa Lita. Semasa kuliah, dia mendapat beasiswa dari Tanoto Foundation (2006-2010) dan aktif dalam dunia kerelawanan medis. Dia bergabung dengan beberapa lembaga nonpemerintah seperti BSMI dan SHEEP Indonesia. Dia juga pernah terlibat dalam kegiatan Rumah Zakat Indonesia bekerja sama dengan Indosat juga Zaid UEA dalam beberapa projek terpisah. Projek tersebut di antaranya emergency response and rehabilitation programs saat dan pascabencana alam seperti saat bencana gempa Padang, Sumatera Barat, Gempa Yogyakarta, serta meletusnya Gunung Merapi.
Lita pernah mendapatkan beberapa prestasi ketika menjadi mahasiswa seperti finalis Pimfi di ITB dan dipercaya sebagai Ketua Kelompok Studi Profetik Fakultas Farmasi UGM yang bergerak dalam keamanan (kehalalan) obat, makanan dan kosmetik (2007-2008). Sebagai lulusan Farmasi, Marlita pernah bekerja sebagai apoteker pendamping Ramadhan Medical Centre setelah sebelumnya memiliki pengalaman sebagai asisten apoteker di RS Muhammadiyah Yogyakarta. Dia juga pernah ditunjuk sebagai asisten laboratorium Farmasetika Dasar dan Perbekalan Steril Fakultas Farmasi UGM serta penulis lepas untuk buku Farmakoterapi Sistem Syaraf Pusat bersama Prof Zulies Ikawati dan Woro Hardjaningsih.
Sebagai Pengajar Muda (PM) yang ditempatkan di SDN Paradowane Kabupaten Bima, Lita mengajar Matematika dan Bahasa Inggris. Dia menginisiasi tiga ekstrakurikuler baru (Duta Baca, Duta Kebersihan dan English on The Road) dan 4 kegiatan advokasi pendidikan bersama 8 PM Bima di Kota dan Kabupaten Bima. Seluruh aktivitasnya selama menjadi Pengajar Muda menjadi tantangan dan pengalaman ‘pay it forward’ yang luar biasa bagi Lita. *