Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Kasi Pahu Darere

Mango mpoi ra iuku oi madaku Terlalu banyak sudah yang tertumpah Ba ipi mboto lalo ma ra mabuu... Menangis meratapi buruk nasibku Ranangi ba fiki ncoki na moriku Nasib buruk seorang tunawisma Ncoki mori ba dantau ku ka rawi Langit sebagai atap rumahku Langi dimandadi butu umaku Dan bumi sebagai lantainya Labo dana mandadi lante na... Hidupku menyusuri jalan Moriku di ma batu ncai... Sisa orang yang aku makan Sisa doumpa dingaha Langit sebagai atap rumahku Langi dimandadi butu umaku Dan bumi sebagai lantainya Labo dana lante na... Hidupku menyusuri jalan Moriku di ma batu ncai... Sisa orang yang aku makan Sisa dou dingaha ra nonoku Jembatan menjadi tempat perlindungan Jambata mandadi ili kai weki Dari terik matahari dan hujan Ade pana liro ra hina ba ura Begitulah nasib yang aku alami Ede pahun diru'u ba sarumbu Entah sampai kapan hidup begini Sampe bune ai ompona nggori Hm-hm-hm-hm-hm-hm-hm hm-hm-hm

RIWAYAT PERKEMBANGAN KAMPUNG JALA

RIWAYAT PERKEMBANGAN KAMPUNG JALA (H. Sulaiman M. Ali) Adalah Sebuah Kampung kecil nan tandus yang terletak sebelah barat daya Teluk Bima, selain kelapa di kampong ini hanya ada pohon Waru (Wau) yang mengikuti aliran Sungai Bontomaranu. Tidak jauh dari laut itulah terdapat empat puluh rumah yang jarak antara satu sama lainnya berkisaran 10-30 meter. Kampong ini masuk pada bahagian kampong Nggembe - Bolo. Pada masa ini (1930-an), kampong ini sekalian urusan-urusannya berada dibawah naungan atau digabungkan dengan kampong Nggembe. Kampong ini diketuai oleh dua orang tua-tua yang bernama : ahmad Uba Usu dan Hamu ama Barahi (ama Ibrahim). Ialah kampong Jala namanya yang Masjidnya terbuat dari perabot rumah dan boleh disebut sebagai Langgar atau Mushala buat mereka mendirikan sembahyang berjamaah. Terkisahkan pada masa ini bahwa kampong ini tidak mempunyai ijin untuk malakukan sembahyang Jum’at, maka masyarakat terpaksa malakukannya hal tersebut (sholat Jum’at) di Nggembe...