Langsung ke konten utama

Kritik Sejarah

Dalam sebuah rujukan sejarah tentang pertikaian Militer vs Islam (“Majalah Forum Keadilan edisi 9 April 2000” ) memaparkan bahwasannya Militer Indonesia, sejak awal mula secara diam-diam menyimpan rasa kurang senang terhadap organisasi-organisasi Islam. Keti-dak-senangan itu muncul semenjak tahun-tahun pertama berdirinya Republik Indonesia, dan mencapai puncaknya hingga ke tingkat permusuhan setelah pemerintahan militer resmi memegang tampuk kekuasaan tahun 1965. Sebagaimana terlihat dalam perkembangan yang mencapai puncaknya pada tahun 80-an, bahwa kemiliteran itu dibentuk untuk menopang kekuatan negara, dan selalu siap untuk men-jalankan perannya sebagai kekuatan negara mengha-dapi rongrongan ideologi apapun, termasuk ideologi-ideologi agama yang secara resmi diakui, yaitu Islam, Kristen, Budha dan Hindu. Kondisi semacam ini terus berlangsung, sehingga jurang pemisah di antara militer dan organisasi-organisasi (gerakan) politik Islam semakin dalam. Sejak awal dibentuknya kekuatan militer Indonesia, hanya penduduk pulau Jawa sajalah yang berperan mengendalikan dan mengontrol tentara, khususnya dalam pembinaan karakter maupun kultur (tsaqafah) nya. Suku Jawa selamanya menduduki posisi-posisi penting dan strategis sejak lahirnya gerakan kebangsaan di Indonesia, sehingga mereka berhasil menguasai setiap bagi-an dari kehidupan bangsa, dan merambah ke suku-suku lain di luar Jawa yang pada umumnya lebih kuat berpe-gang kepada ajaran Islam dibandingkan dengan mereka yang ada di pulau Jawa. Perkembangan politik selanjut-nya menunjukkan, bahwa apa yang terjadi diantara kelompok militer dan organisasi-organisasi Islam telah merambah masuk hingga ke persoalan-persoalan asasi di dalam tubuh masyarakat Jawa yang memiliki dua pola kultur berbeda: Yaitu, pertama golongan santri, mereka adalah muslim yang taat pada agama. Dan kedua, golongan abangan, adalah mereka yang secara formal mengaku muslim tetapi dalam praktiknya tetap setia berpegang teguh kepada filsafat dan kebudayaan Jawa sebelum Islam. Kira-kira satu bulan sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945 telah terjadi perdebatan sengit antara dua kubu, kelompok santri dan abangan yang tergabung di dalam “Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai”, yaitu sebuah badan yang dibentuk oleh tentara pendudukan Jepang, guna mencari dasar bagi kemerdekaan Indonesia serta mendisku-sikan UUD Republik di masa datang. Pada akhirnya dicapailah suatu kesepakatan yang memuat kerangka undang-undang negara Indonesia sekaligus lima dasar Pancasila yang salah satunya berisi kepercayaan kepada Allah SWT. Para wakil-wakil muslim di dalam badan ini berhasil mengokohkan prinsip tadi yang memungkinkan untuk memberikan warna ke-Islaman dan menonjolkan kepribadian Islam dengan menambahkan kalimat: “Dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluknya”. Kese-pakatan ini kemudian diterima sebagai preambule (pembukaan) undang-undang dasar yang dikenal dengan Piagam Jakarta. Akan tetapi ketika UUD ini diumumkan tanggal 18 Agustus 1945, sehari sesudah proklamasi kemerdekaan, kalimat tersebut dihapuskan melalui tangan pemimpin sekuler Soekarno, yang kemudian diangkat menjadi presiden RI yang pertama. Dengan kejadian ini, maka kemenangan yang semula berada di tangan kaum muslimin berubah menjadi serangan dan penistaan. Dihapusnya tujuh kalimat, yang terdapat di dalam Piagam Jakata (The Jakarta Charter) pada akhirnya menimbulkan permusuhan berkelanjutan selama 20 tahun pertama berdirinya Republik Indonesia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BAB I PENDAHULUAN A. DASAR PEMIKIRAN Generasi muda diharuskan mangenal sejarah dan mengembangkan kenangan, perkembangan masa lalu, masa sekarang dan masa-masa yang akan datang guna memperkaya budaya daerah dan budaya nasional. Penggalian sejarah tentang perkembangan Desa Rupe selama ini hanya diwariskan melalui cerita lisan. Setiap pergantian generasi lebih kurang cerita itu banyak yang tenggelam, akibatnya generasi banyak yang melupakan sejarah dengan dasar “ sejuta ingatan lebih baik satu catatan yang bernilai sejarah”. Kurang mengenal sejarah akibatnya persatuan dan kesatuan semakin renggan ,rasa persaudaraan akan hilang. Dari dasar pemikiran tersebut di atas permasalahan yang dihadapi saat sekarang adalah: 1 Kurang mengenal sejarah lebih-lebih sejarah perkembangan desa mereka sendiri (Desa Rupe) 2 Belum ada yang menulis sejarah perkembangan Desa Rupe dan Langgudu. 3 Persatuan dan kesatuan sekarang semakin renggang 4 Tuntutan p...
Kuis Millionaire Sejarah ๐Ÿ† KUIS MILLIONAIRE ๐Ÿ“š Edisi Sejarah SMA Oleh : Yusuf, S.Pd (Guru Sejarah SMAN 2 Langgudu) Kelas X - XII ๐Ÿ“‹ Aturan Permainan • 15 pertanyaan dengan tingkat kesulitan meningkat • Setiap jawaban benar = naik ke hadiah lebih tinggi • 3 bantuan tersedia: 50:50, Telepon Teman, Ganti Soal • Waktu 30 detik untuk setiap pertanyaan • Hadiah aman: Soal ke-5 dan ke-10 ๐ŸŽฎ MULAI BERMAIN → Materi: Sejarah Indonesia & Dunia Kelas X-XII ๐Ÿ† KUIS MILLIONAIRE Sejarah SMA 30 Pertanyaan 1/15 Hadiah Rp 100.000 ✂️ 50:50 ๐Ÿ“ž Telepon ๐Ÿ”„ Ganti ...

pertempuran Pikiran dan Bathin

Aku heran pada diriku. Aku anggap waktu istirahatku adalah saat pekerjaanku, sementara jam kerjaku aku tetap menggunakan untuk bekerja. Mungkinkah aku rakus dalam bekerja…??? Akan tetapi yang membuatku selalu malas untuk bekerja di Jam kerja ku sebab orang selau menggapnya Salah….nggak beres….dan kami harus mengerjakan mulai dari awal. Aku tersadar akan kemampuanku, aku tidak sesempurna Profesor dan Doktor, akupun belum sebanding dengan master. Ia….ia, aku hanya pekerja, yang tidak tau siang dan malam hanya untuk bekerja. Pekerja……Ia …..kamu pasti mengerti dan tau pekerja, bekerja untuk mencari upah…..yah kalau tidak bekerja tidak ada upah. Tapi kamu khan bekerja……kenapa kamu tidak dikasih upah. Ah…lupakan saja, itu adalah bisikan iblis yang menghantui pikiranmu. Kembalilah bekerja, anggap itu suatu stimulus bagimu untuk terus memupuk semangat dan prestasimu. Ah…..Semangat….!!! Apa itu Prestasi…..!!!, kalau kau sudah semangat dan berprestasi apa yang bisa kau dapatkan…..? adakah sebo...